Minggu, 23 Desember 2012

Koruptor dan ( juga ) Penipu

    Beberapa minggu terakhir ini saya sering sekali melihat kasus kasus penipuan, yang saya maksud disini adalah penipuan dalam hal membohongi masyarakat, seperti kasus bakso yang banyak sekali mengandung daging babi . Yang ditipu disini tentunya adalah muslim, khususnya mereka yang taat terhadap ajaran islam untuk tidak memakan daging babi ( haram hukumnya ). Namun jauh sebelum itu tidak hanya bakso sebagai makanan kesukaan orang Indonesia yang banyak tercampur dengan daging babi, tetapi banyak cerita seperti kasus ayam tiren, bakso daging tikus, jamu oplosan sampai kosmetik wanita dengan bahan-bahan berbahaya beredar disekitar kita. Betapa mirisnya kita melihat akibat dari apa yang mereka lakukan. Kadang saya berpikir begitu jahatnya mereka menipu masyarakat hanya untuk untung yang tidak seberapa. Sebegitu perlukah mereka melakukan itu semua hanya demi uang yang tidak seberapa besar dibanding akibat yang ditimbulkannya kepada konsumen yang mereka tipu?
    Mungkin pada awalnya mereka menganggap hal ini biasa saja. Toh mereka hanya mencampurkan sedikit atau setengahnya ( tidak sepenuhnya ) dan tidak berefek langsung seperti halnya racun, tetapi bertahap. Selain itu sulit untuk mengusutnya karena beredar dari tangan yang satu ke tangan yang lain, bergerak secara acak, bahkan ide itu terpikirkan setelah apa yang diusahakan tidak menguntungkan banyak pemasukan.
    Lainnya halnya dengan penipu kelas kakap. Hati hati, sangat tersembunyi dan licik namun tertutupi dengan sangat rapi dan berkelas khas mafia-mafia yang kita lihat di film-film luar negeri. Namun pada intinya mereka adalah sama. Yang saya maksud adalah koruptor, yaitu penipu masyarakat yang terlihat seperti pejabat pemerintah namun mereka haus darah akan kekayaan yang melimpah dan mereka tidak main main melakukannya karena membutuhkan persiapan dan para tameng untuk menutupi kejahatannya. Mereka seperti pembunuh berdarah dingin. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kelas atas yang mempunyai kesempatan dalam hal mengeruk kekayaan negara yang bukan haknya. Para koruptor ini pun tidak lahir begitu saja tiba-tiba, tetapi mempunyai perencanaan yang matang, dengan berbekal orang-orang penting disekelilingnya. Walaupun sebenarnya apa yang mereka lakukan bukan untuk hal yang perlu dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi hanya menambah kekayaan saja agar tetap bertahan hidup dalam kemewahan yang menguasai mereka selama ini.
    Yang ingin saya pertanyakaan adalah manakah yang lebih kejam diantara keduanya. Karena inti dari kejahatan mereka adalah sama, yaitu berkedok penipu. Dua-duanya memang kejam dan sangat merugikan masyarakat yang tidak tahu apa-apa, tetapi kata " serupa tapi tak sama " adalah sesuatu kata yang tepat untuk menggambarkan penipu-penipu ini.
    Terlintas menurut saya, bedanya adalah para penipu kelas teri mendapatkan untung yang tidak seberapa dengan kejahatan yang mereka perbuat, namun efeknya bisa begitu cepat terhadap korban yang ditipunya. Tetapi para koruptor justru sebaliknya dia mendapat untung yang bisa dibilang sangat besar dan bahkan berjuta juta kali lipat dari penipu kelas teri dan bisa jadi uang yang dia ambil pun berasal dari penipu penipu kelas teri ini juga, tetapi efek dari para koruptor ini sangat lama sekali, bahkan sebenarnya tidak terasa. Tetapi yang kita tahu ini sangat merugikan negara yang notabennya adalah milik kita semua masyarakat, bukan hanya pribadi atau oknum-oknum tertentu saja. Jadi apa sebenarnya makna dari demokrasi yang kita lihat sekarang ini??? Hanya sebagai simbolkah atau hanya paham yang hanya dipelajari tetapi tidak dipraktekan??? ( dari Rakyat, oleh rakyat, untuk Rakyat )


Sabtu, 06 Oktober 2012

The Greatest Man in the World

Tak pernah terlihat kerut di wajahnya
Tak pernah ada kata keluh keluar dari mulutnya
Tak pernah ada takut yang tersirat dari rautnya
Tak pernah sia sia apa yang di sarankannya

Orang terkasih dari Sang Pencipta
Yang paling mulia dari kaumnya
Yang terdepan dari sejawatnya
Pelipur lara bagi yang mengenalnya

Tak pernah terpikirkan akan keburukan orang lain
Tak pernah membalas sama apa yang diperbuat orang lain terhadap dirinya
sekalipun itu hal menyakitkan untuknya
Paling dekat akan Surga-Nya
Paling terjaga akan azab-Nya

Penyeru zaman yang adil dan bijaksana
Tak kan ada dua orang mempunyai sifat yang sama
Paling dinanti oleh semua manusia
bahkan sekalipun belum pernah melihat wajahnya
Semua orang mengetahuinya namun sedikit yang meyakininya
Dialah sang Penutup bagi kita semua

Wahai kekasih Allah,,,,
Sungguh tak beruntung orang yang tak mengenalmu
Walau hanya dari seuntai cerita, namun bagi yang terbuka hatinya
akan terbuka pula akalnya

Sang Pengubah Zaman di eranya
Bahkan sampai akhir pun masih tak ada gantinya

Rabu, 29 Agustus 2012

Membuka Hati Kembali

Dua minggu sudah Bulan penuh Rahmat sudah berlalu dan kini bulan itu terasa kian jauh. Segala kemuliaannya sudah tak kembali menyapa, yang tertinggal hanya lembaran lembaran baru yang akan kita isi lagi dengan sebuah kalimat yang ditulis oleh-Nya.

Semoga saja kita bisa berjumpa kembali dengan bulan Suci yang menjadikan kita selalu bersih bersih dan bersih kembali...

Selasa, 26 Juni 2012

Masa Lalu ( 1 )

Aku sedang menceritakan sebuah kisah, kisah yang terjadi padanya, yang dialaminya, yang dilaluinya, dan yang sudah diceritakannya. Dia telah melakukan sebuah kesalahan hidup. Kesalahan yang seharusnya tak ia lakukan walaupun pun terbujuk rayuan setan yang berkelana. Ketika itu hujan tiba-tiba turun, deras sekali. Bukan musim hujan kala itu, tapi entah mengapa langit mengira begitu. Dan tak ada yang lebih menakutkan daripada petir yang secara mendadak menyapa bumi kapan pun yang dia mau sewaktu hujan turun. Tak ada penangkal yang dapat menangkal jika dia yang diinginkannya adalah kehancuran. Malam hari pun tak sabar untuk segera menyapa seakan-akan tak mau terlewat menambah kelamnya dunia ini. Dunia yang tanpa mereka pun sudah kelam. Semua bersatu dalam kesunyian dan kesepian, juga yang tak terlewat kedinginan pada sekujur tubuh yang ringkuh. Semua mengalaminya bahkan orang kuat sekalipun tak pernah luput darinya. Di ujung sana tergeletaklah seorang hamba yang telah merasakan buruknya sebuah nasib. Semua sudah dialaminya, hujan dan dinginnya malam itu hanya sekedar pelengkap di hidupnya. Semua seakan tak berarti, namun entah mengapa malam kali ini seakan membuatnya tak tahan menahan, tak seperti hari-hari sebelumnya. Sebelumnya semua itu menjadi tak masalah bagi-nya, berkeliaran kesana-kemari, tersenyam-senyum dalam keterpaksaan, memelas hanya demi perutnya yang meminta, dan terlunta-lunta berbohong hanya demi semua harga yang harus ditukar dengan beberapa suap yang dibutuhkan tubuhnya untuk melanjutkan hidup. Padahal hatinya tidak menginginkannya tetapi nasib mempermainkannya.

Senin, 18 Juni 2012

Budaya Baca Calon Pemimpin Kita


    Jika kita ingin mengetahui ilmu seseorang maka lihatlah apa yang telah ia baca. Membaca adalah sebuah kegiatan yang mudah diucapkan namun pada kenyataannya adalah hal yang paling sulit dilakukan. Kebanyakan dari mereka banyak bicara dan sedikit sekali dari mereka yang memperbanyak membaca.
    Pemimpin adalah orang yang dapat membuat suatu perubahan kedalam sistem yang telah ada. Kecakapan dari seorang pemimpin tersebut yang akan menjadi cerminan seperti apa pemimpin kita. Ini tak lepas dari apa yang telah dilakukannya. Orang tidak hanya berbicara terus menerus atau pun hanya membuat perencanaan-perencanaan tanpa melaksanakannya. Sebatas mana dia berani mengambil resiko dari apa yang dilakukannya. Kecakapan inilah yang akan menentukan nasib pemimpin kedepannya. Suatu budaya akan berakar kepada suatu kebiasaan, tentunya dalam hal ini adalah suatu kebiasaan yang positif dan mendatangkan suatu manfaat. Membaca adalah kata yang tepat. Penggambaran budaya baca bukan hanya terletak pada apa yang kita baca saja namun bagaimana cara kita membaca dan apa yang kita lakukan setelah kita selesai membaca. Banyak masyarakat atau pun orang besar yang sering membaca, namun setelah itu mereka tak jua berbuat apa-apa. Sehingga kegiatan membaca ini seperti tak terlihat manfaatnya.
    Kita analogikan seperti seorang guru. Banyak sekali guru-guru yang pandai, namun tak semua guru dapat menyalurkan ilmunya, bagaimana ilmu itu dapat bermanfaat. Mereka hanya mengajarkan hal yang itu itu saja setiap tahun, hanya memikirkan golongan dan jabatan tanpa membuat sebuah perubahan bagi dunia pendidikan. Begitu juga dengan pemimpin-pemimpin kita baik di daerah maupun orang-orang penting di DPR, mereka kebanyakan berbicara tanpa ada dasarnya, seperti berbicara tanpa ilmu, mungkin ini semua dikarenakan bacaan mereka yang kurang atau tak paham dengan apa yang mereka baca atau memang rasa kepekaannya pada situasi yang kurang akhir akhir ini.
    Karena sifat akan melahirkan suatu kepribadian. Pemimpin masa depan terus memperlihatkan eksistensinya, namun apakah semua berharga tanpa sebuah ilmu. Baca adalah mata ilmu, jendela pengetahuan yang tak ternilai. Membaca sebenarnya adalah pekerjaan yang mudah, mengambil buku, membuka, membaca dan meresapi apa yang telah kita baca, namun indera mata ini ternyata tidak banyak digunakan oleh para pemimpin bangsa. Padahal membaca adalah sebuah awal perubahan yang paling mendasar, bagaimana kita dapat mengetahui sesuatu tanpa membaca. Mendengar saja tidak cukup tanpa kita menggali apa yang sudah ada. Membaca selain merupakan proses pencarian informasi atau berita, sebenarnya adalah sebuah jembatan untuk mengembangan sebuah pemikiran kita. Dengan banyak membaca semua pikiran kita akan terbuka dan kita tidak hanya mempunyai satu perspektif saja, namun banyak pandangan yang kita peroleh hanya dengan membaca sebuah kalimat. Dengan rangkaian kata-kata manusia dapat membuat suatu pemikiran yang dapat merubah hidup. Maka seorang pemimpin harus mempunyai kebiasaan membaca yang dapat menggugah pemikiran kita.
   

Minggu, 17 Juni 2012

Tak Ada Sesuatu yang Tak Bermakna

Tak ada kata yang tak bisa diucapkan
Tak ada kalimat yang tak bisa dituliskan
Tak ada waktu yang tak bisa dilewati
Tak ada harapan yang tak diiringi doa dan usaha
Tak ada Ibu yang tak menyanyangi anaknya
Tak ada doa yang tak sampai pada-Nya
Tak ada salju yang tak dingin
Tak ada senja yang berwarna cerah
Tak ada kejayaan tanpa kerja jeras
Tak ada kelembutan yang tak diiringi senyuman
Tak ada kehidupan jika Dia tak menentukannya
Tak ada hari yang redup jika kau mulai dengan senyuman

Sepenggal Cerita Masa Kecil

    Ketika ku termenung, muncul sekelebat cahaya datang di jendela, nyala kuning menghalangi pandangan. Satu-satu berkumpul menyebar dan menyatu kembali. Mencari rombongan di malam hari. Temaram malam takkan menghalangi untuk berlabuhnya seekor kunang-kunang untuk menghampiri buruannya.
    Teringat ku ketika masih kanak-kanak dulu. Ketika selepas mengaji di belakang rumah bersama teman-teman se-gang ( bukan gank ), kami pun berlarian mengejar kunang-kunang. Bahkan tak sempat sejenak untuk menaruh Iqra di rumah masing-masing.
“ kamu dapat berapa ? “, Tanya Ujang dengan suara lantang. Belum sempat Budi menjawab sekelebat warna kuning baru saja lewat didepannya, hingga dia mengejarnya kembali. Riuh senang kesana kemari. Banyak toples untuk makanan di rumah menjadi incaran. Semua memasukkan kunang-kunang buruannya ke dalam topes itu. Sungguh serunya, dan yang paling banyak menangkap kunang-kunang maka dialah pemenangnya. Tak ada hadiah memang, tetapi semua itu berlangsung secara alami, tak ada yang protes. Bahkan mengapa harus dinamakan kunang-kunang dengan pengulangan kalimat semu, karena jika kunang saja tak ada yang tahu artinya. Ahh, semua arti itu takkan terpikirkan oleh mereka yang tanpa perlu memikirkannya mereka sudah merasa senang bermain-main.
    Cerita tadi seperti mengekspresikan kerinduan akan masa kecil yang penuh gairah, penuh semangat seakan-akan tak pernah berpikir untuk menjadi dewasa. Hanya keceriaan yang mengisi hari-hari yang penuh dengan semangat anak-anak tentunya. Seperti tak ada waktu untuk istirahat bahkan kala siang berganti sore dan sore berganti malam bukan jaminan semua akan pulang ke rumah masing masing dan menandakan berakhir permainan untuk hari ini, mungkin hanya rasa ngantuk yang dapat mengalahkan kelelahan setiap anak anak untuk berhenti bermain.

Jumat, 15 Juni 2012

Sejengkal Samudera Seluas Hati Kita



Setiap waktu tersimpan makna
Setiap tempat tersimpan rahasia
Setiap jiwa-jiwa manusia tersimpan keberanian
Hanya satu harapan yang dapat mematahkannya

Bibit-bibit waktu telah bergulir
Menyatukan cinta
Yang selama ini hanyut tak berasa
Kapankah lagi ada kesempatan kedua
Yang terus membentang
Menghanyutkan mimpi

Haluan makna kian terbesit
Berbagai jawaban atas pertanyaan muncul
Tak lagi menjadi alas an bagi manusia
Untuk menolak
Seperti mega yang gelisah
Satu persatu sirna

Aku bukan pelantun yang baik
Yang dapat menyisir nada
Dengan sempurna
Tapi aku dapat mengubah makna hidup
Dan dapat membuat kata hati

Jadi masih adakah ruang
Untuk jiwa-jiwa yang hina ini
Seharusnya lebih awal kau
Katakan…
Karena kesempatan kedua jarang akan ada yang datang

Sebuah Kata
 
Seikat kata tadi yang mengantarkanku kearah yang sekarang aku jalani. Bila setiap orang tak mampu untuk memahami diri sendiri dan lingkungan sekitar kita maka jangan harap mereka akan mengenal dunia ini. Dunia yang penuh dengan hitam dan putih yang kadang menyilaukan tapi juga menghangatkan. Maka bersiaplah setiap manusia untuk menerka apakah selama ini mereka sanggup membuat api menjadi air ataukah berpikir bahwa setiap jengkal hidup kita bermakna walau itu hanya untuk sebutir kata.

Itu hanya untuk sebagai perasaan yang terluap. Jika terdapat cacat, wajarkah itu?. Setiap orang berhak memaknainya seperti apa tapi yang wajib digarisbawahi adalah suatu wajah dapat dikenali karena jiwa yang ada didalamnya menjadi kata-kata yang melebur bersama tindakan.

Tak ada yang lebih bermakna dibandingkan dengan sebuah kata, karena bukankah hanya dengan itu setiap peristiwa menjadi bermakna, dan dengan itu pula setiap dunia mempunyai sesuatu untuk ditinggalkan.

Setiap orang berhak menilai orang lain, tapi dia pasti akan luput terhadap sesuatu, tapi lihatlah walau cermin dapat memntulkan apa yang kita rasakan, tapi apakah kau tahu bahwa luar dan dalam itu berbeda jadi mengapa kita tidak menilai diri kita sendiri saja untuk memahami jalan hidup apa yang kita ambil.

Setiap zaman pasti akan berakhir tapi apa yang ada di dalamnya takkan pernah musnah begitu saja, begitu juga tak akan pernah habis kata melukiskan betapa semua ini belum habis…

Kamis, 14 Juni 2012

Kita Telah Terbiasa Menunggu...

Menunggu...

Seorang mahasiswa menunggu giliran untuk sidang, sidang yang sudah direncanakan beberapa bulan lalu, sidang yang sudah ditunggu-tunggunya selama ini, semuanya bisa saja gagal hanya dengan satu kalimat dosen pembimbing " materi kamu sepertinya belum cukup untuk diujikan, mungkin masih butuh beberapa buku lagi untuk mendukung teori kamu tentang oedipus-complex ". Kesempatan untuk mengakhiri rutinitas melelahkan sebagai seorang siswa yang lebih dari sekedar siswa ( Mahasiswa ) seakan-akan terus tertunda dan membuat kata ketidakpastian. Semangat Mahasiswa pun menjadi  terus menerus pupus seiring jadwal yang kian tak bersahabat dengan Dosen yang sangat susah ditemui. Dan tentunya selalu terlintas pertanyaan " kapan topi toga menghampiri dan kehidupan kampus segera berakhir menjadi kehidupan seorang pegawai kantoran yang selalu menerima gaji tiap akhir bulan ".
 
Di lain tempat dan waktu dan di pagi yang tidak bersahabat, dengan panas matahari yang mulai meninggi, dan segala riuh gemuruh suara terminal terus menerus menghampiri tanpa henti. Banyak angkot dan bus keluar masuk melewati tempat dimana seorang karyawan baru menunggu mobil yang ditunggu, bahkan tak ketinggalan Busway dengan badannya yang besar dan berjalan beriringan tak mau kalah dengan bus bus antar kota. Karyawan itu seperti biasa menunggu angkot jurusan tanah abang yang tak muncul datang, sambil terus berkeluh menunggu sampai hampir setengah jam " kapan aku sampai kantor tepat waktu ".
 
Sambil mengerjakan pekerjaan harian mengurusi jurnal piutang yang semakin hari semakin bertumpuk di atas meja, karyawan yang sudah mengabdi selama lima tahun di perusahaan manufaktur besar di jakarta menunggu hasil dari atasan, sebuah hasil yang dinanti-nantinya selama ia bekerja di perusahaan itu dan berharap dapat memperbaiki jabatannya yang tidak hanya sebagai pesuruh, dan hasil dari test untuk naik jabatan inilah yang sangat dinantikannya setelah sudah berhari-hari ia jalani dengan sangat melelahkan. Sambil menatap komputer dia selalu bertanya dalam hati " kapan aku bisa menempati ruangan itu sebagai kepala Accounting dan mempunyai bawahan sebagai alat untuk menyalurkan amarah ketika deadline laporan yang tak kunjung selesai ".
 
Semua keinginan dalam karir sebagai seorang manager wanita yang handal sepertinya sudah cukup digapai, bertahun - tahun bekerja untuk diri sendiri mungkin sekaranglah saatnya memikirkan bagaimana hidup saling berbagi dengan orang yang kita kasihi dan itu adalah sebuah kelengkapan dari pasangan hidup yang tinggal diraih seorang wanita karir yang satu ini. Dengan bantuan temannya, wanita yang sudah mapan ini tinggal menunggu hari H saja untuk menyandang status baru sebagai seorang istri. Apakah itu impian semua wanita? Jawabannya belum tentu iya, namun baginya ini adalah momen yang sudah ditunggu - tunggu sejak ia memutuskan untuk mau hidup berbagi dengan seseorang. Masih seminggu lagi memang, akan tetapi seminggu yang penuh penantian panjang, setiap detik, menit, jam bahkan tiap malam selalu tersirat " akankah minggu depan bisa dipercepat menjadi satu hari lagi ? ".
 
Di lain kesempatan seorang wanita yang sedang menunggu pulang suaminya. Karena tak biasanya suaminya pulang selarut ini, maka sang istri hanya bisa mondar mandir sambil memegangi Hp yang berada ditangannya sambil mendengarkan suara televisi yang ia nyalakan hanya untuk sebagai peneman agar suasana tak begitu sunyi. Tak hanya waktu pulang yang tak biasa nomor suaminya yang selalu aktif pun mulai tak biasa karena sudah hampir sepuluh kali sang istri menelpon hanya jawaban operatorlah yang ia dapat, bukan suara berat suaminya yang biasa ia terima. Sesekali nafas berat ia lontarkan dan sebuah pertanyaan di dalam hati yang bertanya - tanya " ada dimana kamu Pak? Inikan sudah larut, kapan Hp kamu aktif dan cepat pulang ke rumah? ".
 
Itulah kegiatan yang bernama menunggu... Sebuah kegiatan yang sebenarnya tidak terlalu menyenangkan... Sesuatu yang membuat hati menjadi tak sabaran, entah itu berita, seseorang, kekasih, pengharapan atau apapun, namun kadang membuat hati dan tubuh lelah, karena menunggu memang tak menyenangkan. Tetapi tak sadarkah bahwa sejatinya kita semua, tak hanya aku, seorang mahasiswa, seorang istri, sahabat saja, tetapi semua, kita sedang menunggu kematian kita. Kita akan selalu menunggu kapan kematian itu akan datang, tetapi tak semua orang menyadarinya, bahwa bagi mereka yang hanya terlintas sedikit menganggap bahwa penantian itu bisa diperlambat, bisa ditunda berhari hari, berbulan bulan bahkan bertahun tahun. Semua terlena oleh kesibukan yang mereka lakukan dan keinginan - keinginan duniawi yang mungkin saja semua itu hanya mimpi belaka. Mimpi yang hanya diterbangkan debu debu halus dalam sebuah alur kehidupan manusia, karena diatas sana ada sang Pencipta yang bisa dengan mudahnya mengubah segala sesuatu menjadi berakhir begitu saja jika kita lengah sedikit.
 
Atau kematianlah yang sedang menunggu kita, kapan dia akan menyambutnya. Adakah persiapan, adakah kenyamanan atau kegembiraan dalam menunggunya, mungkin hanya segelintir orang saja dari bermilyar milyar manusia di bumi tercinta ini yang mempersiapkannya... Para sufi, para Ulama, para Pemikir... Entahlah, semoga tak hanya mereka yang semakin sadar, bahwa kita semua adalah, karena hanya satu yang kita tunggu, yaitu bertemu dengan Sang Pencipta...
Peranku di dunia tak terwujud lagi
Adakah penghalang antara waktu dan ruang
Takkan mampu semua menyertainya
Di setiap sudut bahwa aku telah melampauinya

Aku terpana kaku
Bahwa rasa ini ternyata hanya hampa
Tak berarti lagi di mata dunia
Aku hanya bisa berharap
Tanah masih bisa menantiku dengan senyum

Telah lama aku pikirkan hal ini
Sedari dulu, dari sebelum mereka ada
Dari waktu dimana berjalan sendirian

Hampa alam yang merana
Kini yak berbekas di setiap sudut
Tak teramati lagi
Jauh telah tertinggal
Satu jejak yang terus membekas

Jumat, 25 Mei 2012

Back to the Future

    Kuis, kuis, kuis, dan kuis. Tak ada hal lain yang paling menyenangkan dibandingkan dengan mengirim kuis. Saya seorang yang paling gemar sekali mengirim kuis, jika dibandingkan dengan yang lain, sekiranya. Tentu, bagaimana tidak, setiap ada kuis di televisi, koran atau di majalah, saya tak pernah ketinggalan untuk mengikutinya. Kecuali memang kuis melalui SMS. Yah karena saya sama sekali tak pernah mengikuti kuis lewat SMS, karena selain mahal menurut saya itu tidak ada seninya. Tanpa kertas, tanpa pulpen, tanpa prangko dan semacamnya.
    Kuis lagi. Yup karena dengan mengirim kuis ada suatu kesan yang kudapat. Dari pertama kali membayangkan hadiah yang tersedia bisa menjadi motivasi dan pengisi hari berkhayal yang seru. Lalu setiap kali diumumkan, sebelum membaca para pemenangnya, tangan pasti gemetar, jantung dag dig dug dueer…hehehe( tapi gak kayak di iklan lohh). Pokoknya setiap tanggal pengumuman tiba pasti pikiran jadi tidak tenang. Menang…tidak…menang…tidak, wahh, pasti campur aduk. Walaupun pada akhirnya cerita berakhir dengan sad ending, namun tetap menyenangkan karena masih mempunyai segudang harapan menang di kesempatan lain.
    Tanyalah! Apakah aku pernah memenangkan kuis? Ohh…jarang sekali, atau tepatnya sangat jarang dengan bandingan berapa kali mengirim kuis, dan suatu saat tentunya aku berharap lebih ( dan itupun hadiah yang kudapat hanya berupa hadiah paling buncit yang tersedia seperti kaos, tempat pensil, orang-orangan dll. ). Kalau dihitung-hitung sudah hampir tujuh tahun ini aku terus mengirim kuis, tapi itu tidak hanya kuis dengan kupon atau memberi jawaban, namun dalam bentuk kirim TTS, memecahkan sandi dan lain lain. Itu sangat menyenangkan.
    Yah, beberapa tahun ini teman-teman saya mengikuti jejak saya. Jika di Koran atau Majalah terdapat kuis lewat kartu pos ( apalagi yang hadiahnya kerenz ) mereka langsung ribut mencari jawabannya dan memburu perangko dan seterusnya ke kantor pos tentu. Sempat saya meledeknya karena dulu mereka mengganggap hobi saya yang terlalu aneh tapi sekarang mereka menganggap hobi ini adalah hobi yang paling asyik sedunia.
    Bukan hanya itu ternyata, keasyikan tersendiri adalah "Kantor Pos". Bukan Mall atau tempat hiburan lain, tapi memang Kantor Pos lah tempat yang memang sangat menyenangkan. Entah mengapa? mungkin karena di tempat itu kita bisa menantikan sesuatu yang mungkin membuat jantung berdebar-debar ( seperti menanti datangnya surat, atau pengumuman pemenang ). Dan tentunya berkat tempat itu saya sekarang memiliki cerita indah bersama teman teman di kejauhan, yang bahkan terjalin sampai sekarang.
  

Kamis, 24 Mei 2012

???

Dahulu kala sang anak Adam banyak melakukan kesalahan. Semua list kesalahan itu tercatat dalam dokumen malaikat Raqib & Atid. Di penghujung dunia list kesalahan itu semua akan terbaca dan seluruh alam akan tahu apa yang telah diperbuat manusia sewaktu di dunia. Tak ada yang bisa menolak karena semua itu sudah terjadi. Banyak dari mereka mengeluh, memerotes untuk meminta kembalinya dunia, padahal mereka tahu bahwa dunia sekarang sudah terlampau jauh tak berbekas, walaupun sebutir debu. Mereka tahu bahwa merekalah yang telah memusnahkannya atas izin sang nafsu. Lalu tibalah hampir semua kesalahan itu ditampakkan, dan berteriaklah seseorang dari mereka…

Minggu, 20 Mei 2012

Seruan Alam

Air di hulu terus mengalir ke hilir
Lalu mengapa aku diam?
Matahari terus terbit dari timur ke barat setiap hari
Lalu mengapa aku duduk terdiam?
Angin berhembus tiada henti seperti tak ada yang dapat menghentikannya
Lalu mengapa aku terngungu saja di hadapan cermin
Tanah memberikan kemakmuran dengan sisa tenaganya
Lalu mengapa aku masih diam?
Pohon-pohon tumbuh juga walau sepertinya terlihat sengsara
Namun ternyata aku tetap tak bergerak sedikitpun...

Beberapa puluh tahun kemudian...

Aku mencari taman untuk kesegaran
Tapi tak kutemukan
Aku ingin mencari kehangatan matahari
Tapi sekarang sinarnya tak lagi bersahabat
Aku menantikan sejuknya angin sepoi-sepoi
Tapi kini angin lain yang mendatangiku
Aku berjalan di pinggir sungai
Tapi aku yakin ini bukan sungai yang biasa kulihat ketika itu
Kini orang membicarakannya
Hal yang dulu menurut mereka tidak penting
Begitupun Aku
Namun ternyata semua itu tak berarti lagi
Karena waktu tak dapat berputar kembali

Apakah ini seruan? Untuk apa dunia berada didepanku

( www.kabarindonesia.com )

Rabu, 16 Mei 2012

Box Biru

Hal yang hampir terlupakan, di saat semua teknologi berkembang pesat, dan tumbuh desain desain baru, semua orang terus memburunya tiada henti. Seakan akan belum puas menikmati gadget yang baru barang beberapa bulan, lalu
muncul gadget dengan teknologi canggih yang baru, yang siap menggantikannya, bahkan dengan mutu dan fungsi yang sama
sebuah gadget bisa berubah walau hanya dalam sentuhan desain saja. Seperti halnya handphone. Barang kecil yang imut dan bisa dibawa kemana saja ini
sudah bukan hal yang wah lagi pada zaman sekarang, bahkan tak pelak kita melihat seorang pengamen, pengemis atau pedagang kecil
yang notabennya masyarakat kurang mampu memiliki sebuah handphone disakunya dengan merk yang bagus dan dilengkapi dengan banyak fitur. Yah, semua orang memang ingin memilikiknya.


Namun ketika barang yang satu ini tertinggal, entah bagaimanakah orang-orang mengusir kejenuhannya, semua itu seakan akan membuat kita seperti terlepas dari dunia luar ke dalam dunia kecil yang seluas daun kelor. Kita seperti terasing dan tak bisa membunuh kejenuhan ketika sedang berada diluar rumah. Seketika jauh komunikasi dari luar
ada suatu barang yang membuat saya menjadi ternganga. Bok tinggi yang berdiri di sudut sudut jalan kota sebenarnya mungkin kita tidak sadar bahwa "dia" pun juga ingin berkomunikasi dengan orang orang disekelilingnya.
Kegunaan hal utama yang ada pada "dia" mungkin sudah terlupakan. Dan "dia" terus menanti agar jangan sampai "dia" benar benar dilupakan dan hanya sebagai penghias jalan dan rongsokan besi di jalanan yang dipenuhi manusia manusia yang hanya peduli kepada diri dan barang barangnya saja.


Itulah sekilas cerita yang ingin saya sampaikan. Rongsokan besi berwarna biru itulah yang menjadi perhatian saya hari hari ini.
Telepon Umum, yah telepon umum yang hingga kini masih terpajang di pinggir pinggir jalan ataupun sudut kota, namun hanya sedikit sekali
yang masih mempergunakannya. Saya baru sadar ketika pulang malam dari kantor. Kealpaan saya mengisi batre Handphone menjadi kendala. Dan ketika itu saya
harus menghubungi orang rumah. Ketika Handphone yang lumayan canggih ini kehilangan sumber hidupnya, maka benda ini hanya seperti mainan anak kecil
yang siap dibuang kapan saja. Saya harus berpikir, apakah saya harus meminjam orang lain atau meminjam charger orang lain. Entah mengapa
tiba tiba saya tertarik untuk bernostalgia. Langsung teringat bagaimana dulu masyarakat ramai ramai mengantre hanya untuk sekedar
say hello dengan kerabatnya atau pun kekasihnya. Atau suara suara orang yang mengantre dibelakang kita sambil mengeluh " Aduh...bla bla bla".
Atau mungkin sambil bercengkrama sambil menunggu giliran. Saya masih ingat dulu juga sempat ada penggunaan telepon umum kartu yang menggantikan telepon umum koin. Ketika telepon umum kartu muncul banyak orang yang sempat menjajalnya dan membelinya, karena ada yang
bilang prakris dan tidak perlu mencari-cari uang logam. Dan sejumlah cerita lainnya karena sebenarnya komunikasi itu penting sekali.


Dulu yang dimaksud disini, memang sudah lama sekali, entah lima atau sepuluh tahun yang lalu. Yang pasti sejak itu jika ada uang koin tertinggal di tas,
saya lebih memilih telepon umum, karena di saat terdesak tak dapat dipungkiri bahwa box biru itu ternyata masih sangat berguna di tengah tengah
kawan barunya yang lebih canggih bermunculan tiada henti. Atau mungkin "dia" tidak ingin hanya sebagai penghias pinggir jalan tetapi berguna juga bagi orang disekelilingnya.

Sabtu, 12 Mei 2012

Jawaban atas Pertanyaan Seseorang


Janganlah kamu takut akan datang tidaknya pasangan sehidup semati mu, karena dia tak perlu dicari. Dia akan datang dengan sendirinya selama kita berusaha untuk mempersiapkan segala sesuatu dengan baik dan menjadi orang yang lebih baik dari kemaren. Sama halnya seperti kawan sejati, kau tak perlu mencarinya hingga sekuat tenaga karena dia akan datang dengan sendirinya ketika kau terus berbuat baik kepada setiap orang tanpa memandang siapa dia dan bagaimana dia atau pun darimana dia berasal. Namun musuh tak datang dengan begitu saja, karena kau lah yang mencari carinya sendiri, bukan dia yang datang kepadamu. Maka dari itu jangan terlalu resah dengan misteri masa depan kita, karena masa depan adalah hasil dari yang kita panen dari apa yang kita lakukan sekarang.

Selasa, 08 Mei 2012

Perasaan Yang Tak Terucap

Seiring waktu berjalan
Waktu juga bertambah
Tua
Tidak habis kata
Terucap untuknya
Pada siapakah kita
Bersandar?
Pada waktu?
Atau pada musim?
Senja yang muncul
Dan tenggelam
Membatasi waktu
Akankah semua ini
Muncul ke permukaan?
Bersamaan dengan
Datangnya nirwana!
Hati-hati ini
Saling bertanya
Apahah bedanya?
Antara kenyataan, mimpi
Dan harapan…