Minggu, 17 Juni 2012

Sepenggal Cerita Masa Kecil

    Ketika ku termenung, muncul sekelebat cahaya datang di jendela, nyala kuning menghalangi pandangan. Satu-satu berkumpul menyebar dan menyatu kembali. Mencari rombongan di malam hari. Temaram malam takkan menghalangi untuk berlabuhnya seekor kunang-kunang untuk menghampiri buruannya.
    Teringat ku ketika masih kanak-kanak dulu. Ketika selepas mengaji di belakang rumah bersama teman-teman se-gang ( bukan gank ), kami pun berlarian mengejar kunang-kunang. Bahkan tak sempat sejenak untuk menaruh Iqra di rumah masing-masing.
“ kamu dapat berapa ? “, Tanya Ujang dengan suara lantang. Belum sempat Budi menjawab sekelebat warna kuning baru saja lewat didepannya, hingga dia mengejarnya kembali. Riuh senang kesana kemari. Banyak toples untuk makanan di rumah menjadi incaran. Semua memasukkan kunang-kunang buruannya ke dalam topes itu. Sungguh serunya, dan yang paling banyak menangkap kunang-kunang maka dialah pemenangnya. Tak ada hadiah memang, tetapi semua itu berlangsung secara alami, tak ada yang protes. Bahkan mengapa harus dinamakan kunang-kunang dengan pengulangan kalimat semu, karena jika kunang saja tak ada yang tahu artinya. Ahh, semua arti itu takkan terpikirkan oleh mereka yang tanpa perlu memikirkannya mereka sudah merasa senang bermain-main.
    Cerita tadi seperti mengekspresikan kerinduan akan masa kecil yang penuh gairah, penuh semangat seakan-akan tak pernah berpikir untuk menjadi dewasa. Hanya keceriaan yang mengisi hari-hari yang penuh dengan semangat anak-anak tentunya. Seperti tak ada waktu untuk istirahat bahkan kala siang berganti sore dan sore berganti malam bukan jaminan semua akan pulang ke rumah masing masing dan menandakan berakhir permainan untuk hari ini, mungkin hanya rasa ngantuk yang dapat mengalahkan kelelahan setiap anak anak untuk berhenti bermain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar