Selasa, 26 Juni 2012

Masa Lalu ( 1 )

Aku sedang menceritakan sebuah kisah, kisah yang terjadi padanya, yang dialaminya, yang dilaluinya, dan yang sudah diceritakannya. Dia telah melakukan sebuah kesalahan hidup. Kesalahan yang seharusnya tak ia lakukan walaupun pun terbujuk rayuan setan yang berkelana. Ketika itu hujan tiba-tiba turun, deras sekali. Bukan musim hujan kala itu, tapi entah mengapa langit mengira begitu. Dan tak ada yang lebih menakutkan daripada petir yang secara mendadak menyapa bumi kapan pun yang dia mau sewaktu hujan turun. Tak ada penangkal yang dapat menangkal jika dia yang diinginkannya adalah kehancuran. Malam hari pun tak sabar untuk segera menyapa seakan-akan tak mau terlewat menambah kelamnya dunia ini. Dunia yang tanpa mereka pun sudah kelam. Semua bersatu dalam kesunyian dan kesepian, juga yang tak terlewat kedinginan pada sekujur tubuh yang ringkuh. Semua mengalaminya bahkan orang kuat sekalipun tak pernah luput darinya. Di ujung sana tergeletaklah seorang hamba yang telah merasakan buruknya sebuah nasib. Semua sudah dialaminya, hujan dan dinginnya malam itu hanya sekedar pelengkap di hidupnya. Semua seakan tak berarti, namun entah mengapa malam kali ini seakan membuatnya tak tahan menahan, tak seperti hari-hari sebelumnya. Sebelumnya semua itu menjadi tak masalah bagi-nya, berkeliaran kesana-kemari, tersenyam-senyum dalam keterpaksaan, memelas hanya demi perutnya yang meminta, dan terlunta-lunta berbohong hanya demi semua harga yang harus ditukar dengan beberapa suap yang dibutuhkan tubuhnya untuk melanjutkan hidup. Padahal hatinya tidak menginginkannya tetapi nasib mempermainkannya.

Senin, 18 Juni 2012

Budaya Baca Calon Pemimpin Kita


    Jika kita ingin mengetahui ilmu seseorang maka lihatlah apa yang telah ia baca. Membaca adalah sebuah kegiatan yang mudah diucapkan namun pada kenyataannya adalah hal yang paling sulit dilakukan. Kebanyakan dari mereka banyak bicara dan sedikit sekali dari mereka yang memperbanyak membaca.
    Pemimpin adalah orang yang dapat membuat suatu perubahan kedalam sistem yang telah ada. Kecakapan dari seorang pemimpin tersebut yang akan menjadi cerminan seperti apa pemimpin kita. Ini tak lepas dari apa yang telah dilakukannya. Orang tidak hanya berbicara terus menerus atau pun hanya membuat perencanaan-perencanaan tanpa melaksanakannya. Sebatas mana dia berani mengambil resiko dari apa yang dilakukannya. Kecakapan inilah yang akan menentukan nasib pemimpin kedepannya. Suatu budaya akan berakar kepada suatu kebiasaan, tentunya dalam hal ini adalah suatu kebiasaan yang positif dan mendatangkan suatu manfaat. Membaca adalah kata yang tepat. Penggambaran budaya baca bukan hanya terletak pada apa yang kita baca saja namun bagaimana cara kita membaca dan apa yang kita lakukan setelah kita selesai membaca. Banyak masyarakat atau pun orang besar yang sering membaca, namun setelah itu mereka tak jua berbuat apa-apa. Sehingga kegiatan membaca ini seperti tak terlihat manfaatnya.
    Kita analogikan seperti seorang guru. Banyak sekali guru-guru yang pandai, namun tak semua guru dapat menyalurkan ilmunya, bagaimana ilmu itu dapat bermanfaat. Mereka hanya mengajarkan hal yang itu itu saja setiap tahun, hanya memikirkan golongan dan jabatan tanpa membuat sebuah perubahan bagi dunia pendidikan. Begitu juga dengan pemimpin-pemimpin kita baik di daerah maupun orang-orang penting di DPR, mereka kebanyakan berbicara tanpa ada dasarnya, seperti berbicara tanpa ilmu, mungkin ini semua dikarenakan bacaan mereka yang kurang atau tak paham dengan apa yang mereka baca atau memang rasa kepekaannya pada situasi yang kurang akhir akhir ini.
    Karena sifat akan melahirkan suatu kepribadian. Pemimpin masa depan terus memperlihatkan eksistensinya, namun apakah semua berharga tanpa sebuah ilmu. Baca adalah mata ilmu, jendela pengetahuan yang tak ternilai. Membaca sebenarnya adalah pekerjaan yang mudah, mengambil buku, membuka, membaca dan meresapi apa yang telah kita baca, namun indera mata ini ternyata tidak banyak digunakan oleh para pemimpin bangsa. Padahal membaca adalah sebuah awal perubahan yang paling mendasar, bagaimana kita dapat mengetahui sesuatu tanpa membaca. Mendengar saja tidak cukup tanpa kita menggali apa yang sudah ada. Membaca selain merupakan proses pencarian informasi atau berita, sebenarnya adalah sebuah jembatan untuk mengembangan sebuah pemikiran kita. Dengan banyak membaca semua pikiran kita akan terbuka dan kita tidak hanya mempunyai satu perspektif saja, namun banyak pandangan yang kita peroleh hanya dengan membaca sebuah kalimat. Dengan rangkaian kata-kata manusia dapat membuat suatu pemikiran yang dapat merubah hidup. Maka seorang pemimpin harus mempunyai kebiasaan membaca yang dapat menggugah pemikiran kita.
   

Minggu, 17 Juni 2012

Tak Ada Sesuatu yang Tak Bermakna

Tak ada kata yang tak bisa diucapkan
Tak ada kalimat yang tak bisa dituliskan
Tak ada waktu yang tak bisa dilewati
Tak ada harapan yang tak diiringi doa dan usaha
Tak ada Ibu yang tak menyanyangi anaknya
Tak ada doa yang tak sampai pada-Nya
Tak ada salju yang tak dingin
Tak ada senja yang berwarna cerah
Tak ada kejayaan tanpa kerja jeras
Tak ada kelembutan yang tak diiringi senyuman
Tak ada kehidupan jika Dia tak menentukannya
Tak ada hari yang redup jika kau mulai dengan senyuman

Sepenggal Cerita Masa Kecil

    Ketika ku termenung, muncul sekelebat cahaya datang di jendela, nyala kuning menghalangi pandangan. Satu-satu berkumpul menyebar dan menyatu kembali. Mencari rombongan di malam hari. Temaram malam takkan menghalangi untuk berlabuhnya seekor kunang-kunang untuk menghampiri buruannya.
    Teringat ku ketika masih kanak-kanak dulu. Ketika selepas mengaji di belakang rumah bersama teman-teman se-gang ( bukan gank ), kami pun berlarian mengejar kunang-kunang. Bahkan tak sempat sejenak untuk menaruh Iqra di rumah masing-masing.
“ kamu dapat berapa ? “, Tanya Ujang dengan suara lantang. Belum sempat Budi menjawab sekelebat warna kuning baru saja lewat didepannya, hingga dia mengejarnya kembali. Riuh senang kesana kemari. Banyak toples untuk makanan di rumah menjadi incaran. Semua memasukkan kunang-kunang buruannya ke dalam topes itu. Sungguh serunya, dan yang paling banyak menangkap kunang-kunang maka dialah pemenangnya. Tak ada hadiah memang, tetapi semua itu berlangsung secara alami, tak ada yang protes. Bahkan mengapa harus dinamakan kunang-kunang dengan pengulangan kalimat semu, karena jika kunang saja tak ada yang tahu artinya. Ahh, semua arti itu takkan terpikirkan oleh mereka yang tanpa perlu memikirkannya mereka sudah merasa senang bermain-main.
    Cerita tadi seperti mengekspresikan kerinduan akan masa kecil yang penuh gairah, penuh semangat seakan-akan tak pernah berpikir untuk menjadi dewasa. Hanya keceriaan yang mengisi hari-hari yang penuh dengan semangat anak-anak tentunya. Seperti tak ada waktu untuk istirahat bahkan kala siang berganti sore dan sore berganti malam bukan jaminan semua akan pulang ke rumah masing masing dan menandakan berakhir permainan untuk hari ini, mungkin hanya rasa ngantuk yang dapat mengalahkan kelelahan setiap anak anak untuk berhenti bermain.

Jumat, 15 Juni 2012

Sejengkal Samudera Seluas Hati Kita



Setiap waktu tersimpan makna
Setiap tempat tersimpan rahasia
Setiap jiwa-jiwa manusia tersimpan keberanian
Hanya satu harapan yang dapat mematahkannya

Bibit-bibit waktu telah bergulir
Menyatukan cinta
Yang selama ini hanyut tak berasa
Kapankah lagi ada kesempatan kedua
Yang terus membentang
Menghanyutkan mimpi

Haluan makna kian terbesit
Berbagai jawaban atas pertanyaan muncul
Tak lagi menjadi alas an bagi manusia
Untuk menolak
Seperti mega yang gelisah
Satu persatu sirna

Aku bukan pelantun yang baik
Yang dapat menyisir nada
Dengan sempurna
Tapi aku dapat mengubah makna hidup
Dan dapat membuat kata hati

Jadi masih adakah ruang
Untuk jiwa-jiwa yang hina ini
Seharusnya lebih awal kau
Katakan…
Karena kesempatan kedua jarang akan ada yang datang

Sebuah Kata
 
Seikat kata tadi yang mengantarkanku kearah yang sekarang aku jalani. Bila setiap orang tak mampu untuk memahami diri sendiri dan lingkungan sekitar kita maka jangan harap mereka akan mengenal dunia ini. Dunia yang penuh dengan hitam dan putih yang kadang menyilaukan tapi juga menghangatkan. Maka bersiaplah setiap manusia untuk menerka apakah selama ini mereka sanggup membuat api menjadi air ataukah berpikir bahwa setiap jengkal hidup kita bermakna walau itu hanya untuk sebutir kata.

Itu hanya untuk sebagai perasaan yang terluap. Jika terdapat cacat, wajarkah itu?. Setiap orang berhak memaknainya seperti apa tapi yang wajib digarisbawahi adalah suatu wajah dapat dikenali karena jiwa yang ada didalamnya menjadi kata-kata yang melebur bersama tindakan.

Tak ada yang lebih bermakna dibandingkan dengan sebuah kata, karena bukankah hanya dengan itu setiap peristiwa menjadi bermakna, dan dengan itu pula setiap dunia mempunyai sesuatu untuk ditinggalkan.

Setiap orang berhak menilai orang lain, tapi dia pasti akan luput terhadap sesuatu, tapi lihatlah walau cermin dapat memntulkan apa yang kita rasakan, tapi apakah kau tahu bahwa luar dan dalam itu berbeda jadi mengapa kita tidak menilai diri kita sendiri saja untuk memahami jalan hidup apa yang kita ambil.

Setiap zaman pasti akan berakhir tapi apa yang ada di dalamnya takkan pernah musnah begitu saja, begitu juga tak akan pernah habis kata melukiskan betapa semua ini belum habis…

Kamis, 14 Juni 2012

Kita Telah Terbiasa Menunggu...

Menunggu...

Seorang mahasiswa menunggu giliran untuk sidang, sidang yang sudah direncanakan beberapa bulan lalu, sidang yang sudah ditunggu-tunggunya selama ini, semuanya bisa saja gagal hanya dengan satu kalimat dosen pembimbing " materi kamu sepertinya belum cukup untuk diujikan, mungkin masih butuh beberapa buku lagi untuk mendukung teori kamu tentang oedipus-complex ". Kesempatan untuk mengakhiri rutinitas melelahkan sebagai seorang siswa yang lebih dari sekedar siswa ( Mahasiswa ) seakan-akan terus tertunda dan membuat kata ketidakpastian. Semangat Mahasiswa pun menjadi  terus menerus pupus seiring jadwal yang kian tak bersahabat dengan Dosen yang sangat susah ditemui. Dan tentunya selalu terlintas pertanyaan " kapan topi toga menghampiri dan kehidupan kampus segera berakhir menjadi kehidupan seorang pegawai kantoran yang selalu menerima gaji tiap akhir bulan ".
 
Di lain tempat dan waktu dan di pagi yang tidak bersahabat, dengan panas matahari yang mulai meninggi, dan segala riuh gemuruh suara terminal terus menerus menghampiri tanpa henti. Banyak angkot dan bus keluar masuk melewati tempat dimana seorang karyawan baru menunggu mobil yang ditunggu, bahkan tak ketinggalan Busway dengan badannya yang besar dan berjalan beriringan tak mau kalah dengan bus bus antar kota. Karyawan itu seperti biasa menunggu angkot jurusan tanah abang yang tak muncul datang, sambil terus berkeluh menunggu sampai hampir setengah jam " kapan aku sampai kantor tepat waktu ".
 
Sambil mengerjakan pekerjaan harian mengurusi jurnal piutang yang semakin hari semakin bertumpuk di atas meja, karyawan yang sudah mengabdi selama lima tahun di perusahaan manufaktur besar di jakarta menunggu hasil dari atasan, sebuah hasil yang dinanti-nantinya selama ia bekerja di perusahaan itu dan berharap dapat memperbaiki jabatannya yang tidak hanya sebagai pesuruh, dan hasil dari test untuk naik jabatan inilah yang sangat dinantikannya setelah sudah berhari-hari ia jalani dengan sangat melelahkan. Sambil menatap komputer dia selalu bertanya dalam hati " kapan aku bisa menempati ruangan itu sebagai kepala Accounting dan mempunyai bawahan sebagai alat untuk menyalurkan amarah ketika deadline laporan yang tak kunjung selesai ".
 
Semua keinginan dalam karir sebagai seorang manager wanita yang handal sepertinya sudah cukup digapai, bertahun - tahun bekerja untuk diri sendiri mungkin sekaranglah saatnya memikirkan bagaimana hidup saling berbagi dengan orang yang kita kasihi dan itu adalah sebuah kelengkapan dari pasangan hidup yang tinggal diraih seorang wanita karir yang satu ini. Dengan bantuan temannya, wanita yang sudah mapan ini tinggal menunggu hari H saja untuk menyandang status baru sebagai seorang istri. Apakah itu impian semua wanita? Jawabannya belum tentu iya, namun baginya ini adalah momen yang sudah ditunggu - tunggu sejak ia memutuskan untuk mau hidup berbagi dengan seseorang. Masih seminggu lagi memang, akan tetapi seminggu yang penuh penantian panjang, setiap detik, menit, jam bahkan tiap malam selalu tersirat " akankah minggu depan bisa dipercepat menjadi satu hari lagi ? ".
 
Di lain kesempatan seorang wanita yang sedang menunggu pulang suaminya. Karena tak biasanya suaminya pulang selarut ini, maka sang istri hanya bisa mondar mandir sambil memegangi Hp yang berada ditangannya sambil mendengarkan suara televisi yang ia nyalakan hanya untuk sebagai peneman agar suasana tak begitu sunyi. Tak hanya waktu pulang yang tak biasa nomor suaminya yang selalu aktif pun mulai tak biasa karena sudah hampir sepuluh kali sang istri menelpon hanya jawaban operatorlah yang ia dapat, bukan suara berat suaminya yang biasa ia terima. Sesekali nafas berat ia lontarkan dan sebuah pertanyaan di dalam hati yang bertanya - tanya " ada dimana kamu Pak? Inikan sudah larut, kapan Hp kamu aktif dan cepat pulang ke rumah? ".
 
Itulah kegiatan yang bernama menunggu... Sebuah kegiatan yang sebenarnya tidak terlalu menyenangkan... Sesuatu yang membuat hati menjadi tak sabaran, entah itu berita, seseorang, kekasih, pengharapan atau apapun, namun kadang membuat hati dan tubuh lelah, karena menunggu memang tak menyenangkan. Tetapi tak sadarkah bahwa sejatinya kita semua, tak hanya aku, seorang mahasiswa, seorang istri, sahabat saja, tetapi semua, kita sedang menunggu kematian kita. Kita akan selalu menunggu kapan kematian itu akan datang, tetapi tak semua orang menyadarinya, bahwa bagi mereka yang hanya terlintas sedikit menganggap bahwa penantian itu bisa diperlambat, bisa ditunda berhari hari, berbulan bulan bahkan bertahun tahun. Semua terlena oleh kesibukan yang mereka lakukan dan keinginan - keinginan duniawi yang mungkin saja semua itu hanya mimpi belaka. Mimpi yang hanya diterbangkan debu debu halus dalam sebuah alur kehidupan manusia, karena diatas sana ada sang Pencipta yang bisa dengan mudahnya mengubah segala sesuatu menjadi berakhir begitu saja jika kita lengah sedikit.
 
Atau kematianlah yang sedang menunggu kita, kapan dia akan menyambutnya. Adakah persiapan, adakah kenyamanan atau kegembiraan dalam menunggunya, mungkin hanya segelintir orang saja dari bermilyar milyar manusia di bumi tercinta ini yang mempersiapkannya... Para sufi, para Ulama, para Pemikir... Entahlah, semoga tak hanya mereka yang semakin sadar, bahwa kita semua adalah, karena hanya satu yang kita tunggu, yaitu bertemu dengan Sang Pencipta...
Peranku di dunia tak terwujud lagi
Adakah penghalang antara waktu dan ruang
Takkan mampu semua menyertainya
Di setiap sudut bahwa aku telah melampauinya

Aku terpana kaku
Bahwa rasa ini ternyata hanya hampa
Tak berarti lagi di mata dunia
Aku hanya bisa berharap
Tanah masih bisa menantiku dengan senyum

Telah lama aku pikirkan hal ini
Sedari dulu, dari sebelum mereka ada
Dari waktu dimana berjalan sendirian

Hampa alam yang merana
Kini yak berbekas di setiap sudut
Tak teramati lagi
Jauh telah tertinggal
Satu jejak yang terus membekas