Senin, 18 Juni 2012

Budaya Baca Calon Pemimpin Kita


    Jika kita ingin mengetahui ilmu seseorang maka lihatlah apa yang telah ia baca. Membaca adalah sebuah kegiatan yang mudah diucapkan namun pada kenyataannya adalah hal yang paling sulit dilakukan. Kebanyakan dari mereka banyak bicara dan sedikit sekali dari mereka yang memperbanyak membaca.
    Pemimpin adalah orang yang dapat membuat suatu perubahan kedalam sistem yang telah ada. Kecakapan dari seorang pemimpin tersebut yang akan menjadi cerminan seperti apa pemimpin kita. Ini tak lepas dari apa yang telah dilakukannya. Orang tidak hanya berbicara terus menerus atau pun hanya membuat perencanaan-perencanaan tanpa melaksanakannya. Sebatas mana dia berani mengambil resiko dari apa yang dilakukannya. Kecakapan inilah yang akan menentukan nasib pemimpin kedepannya. Suatu budaya akan berakar kepada suatu kebiasaan, tentunya dalam hal ini adalah suatu kebiasaan yang positif dan mendatangkan suatu manfaat. Membaca adalah kata yang tepat. Penggambaran budaya baca bukan hanya terletak pada apa yang kita baca saja namun bagaimana cara kita membaca dan apa yang kita lakukan setelah kita selesai membaca. Banyak masyarakat atau pun orang besar yang sering membaca, namun setelah itu mereka tak jua berbuat apa-apa. Sehingga kegiatan membaca ini seperti tak terlihat manfaatnya.
    Kita analogikan seperti seorang guru. Banyak sekali guru-guru yang pandai, namun tak semua guru dapat menyalurkan ilmunya, bagaimana ilmu itu dapat bermanfaat. Mereka hanya mengajarkan hal yang itu itu saja setiap tahun, hanya memikirkan golongan dan jabatan tanpa membuat sebuah perubahan bagi dunia pendidikan. Begitu juga dengan pemimpin-pemimpin kita baik di daerah maupun orang-orang penting di DPR, mereka kebanyakan berbicara tanpa ada dasarnya, seperti berbicara tanpa ilmu, mungkin ini semua dikarenakan bacaan mereka yang kurang atau tak paham dengan apa yang mereka baca atau memang rasa kepekaannya pada situasi yang kurang akhir akhir ini.
    Karena sifat akan melahirkan suatu kepribadian. Pemimpin masa depan terus memperlihatkan eksistensinya, namun apakah semua berharga tanpa sebuah ilmu. Baca adalah mata ilmu, jendela pengetahuan yang tak ternilai. Membaca sebenarnya adalah pekerjaan yang mudah, mengambil buku, membuka, membaca dan meresapi apa yang telah kita baca, namun indera mata ini ternyata tidak banyak digunakan oleh para pemimpin bangsa. Padahal membaca adalah sebuah awal perubahan yang paling mendasar, bagaimana kita dapat mengetahui sesuatu tanpa membaca. Mendengar saja tidak cukup tanpa kita menggali apa yang sudah ada. Membaca selain merupakan proses pencarian informasi atau berita, sebenarnya adalah sebuah jembatan untuk mengembangan sebuah pemikiran kita. Dengan banyak membaca semua pikiran kita akan terbuka dan kita tidak hanya mempunyai satu perspektif saja, namun banyak pandangan yang kita peroleh hanya dengan membaca sebuah kalimat. Dengan rangkaian kata-kata manusia dapat membuat suatu pemikiran yang dapat merubah hidup. Maka seorang pemimpin harus mempunyai kebiasaan membaca yang dapat menggugah pemikiran kita.
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar