Box Biru
Hal yang hampir terlupakan, di saat semua teknologi berkembang pesat, dan tumbuh desain desain baru, semua orang terus memburunya tiada henti. Seakan akan belum puas menikmati gadget yang baru barang beberapa bulan, lalu
muncul gadget dengan teknologi canggih yang baru, yang siap menggantikannya, bahkan dengan mutu dan fungsi yang sama
sebuah gadget bisa berubah walau hanya dalam sentuhan desain saja. Seperti halnya handphone. Barang kecil yang imut dan bisa dibawa kemana saja ini
sudah bukan hal yang wah lagi pada zaman sekarang, bahkan tak pelak kita melihat seorang pengamen, pengemis atau pedagang kecil
yang notabennya masyarakat kurang mampu memiliki sebuah handphone disakunya dengan merk yang bagus dan dilengkapi dengan banyak fitur. Yah, semua orang memang ingin memilikiknya.
Namun ketika barang yang satu ini tertinggal, entah bagaimanakah orang-orang mengusir kejenuhannya, semua itu seakan akan membuat kita seperti terlepas dari dunia luar ke dalam dunia kecil yang seluas daun kelor. Kita seperti terasing dan tak bisa membunuh kejenuhan ketika sedang berada diluar rumah. Seketika jauh komunikasi dari luar
ada suatu barang yang membuat saya menjadi ternganga. Bok tinggi yang berdiri di sudut sudut jalan kota sebenarnya mungkin kita tidak sadar bahwa "dia" pun juga ingin berkomunikasi dengan orang orang disekelilingnya.
Kegunaan hal utama yang ada pada "dia" mungkin sudah terlupakan. Dan "dia" terus menanti agar jangan sampai "dia" benar benar dilupakan dan hanya sebagai penghias jalan dan rongsokan besi di jalanan yang dipenuhi manusia manusia yang hanya peduli kepada diri dan barang barangnya saja.
Itulah sekilas cerita yang ingin saya sampaikan. Rongsokan besi berwarna biru itulah yang menjadi perhatian saya hari hari ini.
Telepon Umum, yah telepon umum yang hingga kini masih terpajang di pinggir pinggir jalan ataupun sudut kota, namun hanya sedikit sekali
yang masih mempergunakannya. Saya baru sadar ketika pulang malam dari kantor. Kealpaan saya mengisi batre Handphone menjadi kendala. Dan ketika itu saya
harus menghubungi orang rumah. Ketika Handphone yang lumayan canggih ini kehilangan sumber hidupnya, maka benda ini hanya seperti mainan anak kecil
yang siap dibuang kapan saja. Saya harus berpikir, apakah saya harus meminjam orang lain atau meminjam charger orang lain. Entah mengapa
tiba tiba saya tertarik untuk bernostalgia. Langsung teringat bagaimana dulu masyarakat ramai ramai mengantre hanya untuk sekedar
say hello dengan kerabatnya atau pun kekasihnya. Atau suara suara orang yang mengantre dibelakang kita sambil mengeluh " Aduh...bla bla bla".
Atau mungkin sambil bercengkrama sambil menunggu giliran. Saya masih ingat dulu juga sempat ada penggunaan telepon umum kartu yang menggantikan telepon umum koin. Ketika telepon umum kartu muncul banyak orang yang sempat menjajalnya dan membelinya, karena ada yang
bilang prakris dan tidak perlu mencari-cari uang logam. Dan sejumlah cerita lainnya karena sebenarnya komunikasi itu penting sekali.
Dulu yang dimaksud disini, memang sudah lama sekali, entah lima atau sepuluh tahun yang lalu. Yang pasti sejak itu jika ada uang koin tertinggal di tas,
saya lebih memilih telepon umum, karena di saat terdesak tak dapat dipungkiri bahwa box biru itu ternyata masih sangat berguna di tengah tengah
kawan barunya yang lebih canggih bermunculan tiada henti. Atau mungkin "dia" tidak ingin hanya sebagai penghias pinggir jalan tetapi berguna juga bagi orang disekelilingnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar