Beberapa minggu terakhir ini saya sering sekali melihat kasus kasus penipuan, yang saya maksud disini adalah penipuan dalam hal membohongi masyarakat, seperti kasus bakso yang banyak sekali mengandung daging babi . Yang ditipu disini tentunya adalah muslim, khususnya mereka yang taat terhadap ajaran islam untuk tidak memakan daging babi ( haram hukumnya ). Namun jauh sebelum itu tidak hanya bakso sebagai makanan kesukaan orang Indonesia yang banyak tercampur dengan daging babi, tetapi banyak cerita seperti kasus ayam tiren, bakso daging tikus, jamu oplosan sampai kosmetik wanita dengan bahan-bahan berbahaya beredar disekitar kita. Betapa mirisnya kita melihat akibat dari apa yang mereka lakukan. Kadang saya berpikir begitu jahatnya mereka menipu masyarakat hanya untuk untung yang tidak seberapa. Sebegitu perlukah mereka melakukan itu semua hanya demi uang yang tidak seberapa besar dibanding akibat yang ditimbulkannya kepada konsumen yang mereka tipu?
Mungkin pada awalnya mereka menganggap hal ini biasa saja. Toh mereka hanya mencampurkan sedikit atau setengahnya ( tidak sepenuhnya ) dan tidak berefek langsung seperti halnya racun, tetapi bertahap. Selain itu sulit untuk mengusutnya karena beredar dari tangan yang satu ke tangan yang lain, bergerak secara acak, bahkan ide itu terpikirkan setelah apa yang diusahakan tidak menguntungkan banyak pemasukan.
Lainnya halnya dengan penipu kelas kakap. Hati hati, sangat tersembunyi dan licik namun tertutupi dengan sangat rapi dan berkelas khas mafia-mafia yang kita lihat di film-film luar negeri. Namun pada intinya mereka adalah sama. Yang saya maksud adalah koruptor, yaitu penipu masyarakat yang terlihat seperti pejabat pemerintah namun mereka haus darah akan kekayaan yang melimpah dan mereka tidak main main melakukannya karena membutuhkan persiapan dan para tameng untuk menutupi kejahatannya. Mereka seperti pembunuh berdarah dingin. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kelas atas yang mempunyai kesempatan dalam hal mengeruk kekayaan negara yang bukan haknya. Para koruptor ini pun tidak lahir begitu saja tiba-tiba, tetapi mempunyai perencanaan yang matang, dengan berbekal orang-orang penting disekelilingnya. Walaupun sebenarnya apa yang mereka lakukan bukan untuk hal yang perlu dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi hanya menambah kekayaan saja agar tetap bertahan hidup dalam kemewahan yang menguasai mereka selama ini.
Yang ingin saya pertanyakaan adalah manakah yang lebih kejam diantara keduanya. Karena inti dari kejahatan mereka adalah sama, yaitu berkedok penipu. Dua-duanya memang kejam dan sangat merugikan masyarakat yang tidak tahu apa-apa, tetapi kata " serupa tapi tak sama " adalah sesuatu kata yang tepat untuk menggambarkan penipu-penipu ini.
Terlintas menurut saya, bedanya adalah para penipu kelas teri mendapatkan untung yang tidak seberapa dengan kejahatan yang mereka perbuat, namun efeknya bisa begitu cepat terhadap korban yang ditipunya. Tetapi para koruptor justru sebaliknya dia mendapat untung yang bisa dibilang sangat besar dan bahkan berjuta juta kali lipat dari penipu kelas teri dan bisa jadi uang yang dia ambil pun berasal dari penipu penipu kelas teri ini juga, tetapi efek dari para koruptor ini sangat lama sekali, bahkan sebenarnya tidak terasa. Tetapi yang kita tahu ini sangat merugikan negara yang notabennya adalah milik kita semua masyarakat, bukan hanya pribadi atau oknum-oknum tertentu saja. Jadi apa sebenarnya makna dari demokrasi yang kita lihat sekarang ini??? Hanya sebagai simbolkah atau hanya paham yang hanya dipelajari tetapi tidak dipraktekan??? ( dari Rakyat, oleh rakyat, untuk Rakyat )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar