Menunggu...
Seorang mahasiswa menunggu giliran untuk sidang, sidang yang sudah direncanakan beberapa bulan lalu, sidang yang sudah ditunggu-tunggunya selama ini, semuanya bisa saja gagal hanya dengan satu kalimat dosen pembimbing " materi kamu sepertinya belum cukup untuk diujikan, mungkin masih butuh beberapa buku lagi untuk mendukung teori kamu tentang oedipus-complex ". Kesempatan untuk mengakhiri rutinitas melelahkan sebagai seorang siswa yang lebih dari sekedar siswa ( Mahasiswa ) seakan-akan terus tertunda dan membuat kata ketidakpastian. Semangat Mahasiswa pun menjadi terus menerus pupus seiring jadwal yang kian tak bersahabat dengan Dosen yang sangat susah ditemui. Dan tentunya selalu terlintas pertanyaan " kapan topi toga menghampiri dan kehidupan kampus segera berakhir menjadi kehidupan seorang pegawai kantoran yang selalu menerima gaji tiap akhir bulan ".
Seorang mahasiswa menunggu giliran untuk sidang, sidang yang sudah direncanakan beberapa bulan lalu, sidang yang sudah ditunggu-tunggunya selama ini, semuanya bisa saja gagal hanya dengan satu kalimat dosen pembimbing " materi kamu sepertinya belum cukup untuk diujikan, mungkin masih butuh beberapa buku lagi untuk mendukung teori kamu tentang oedipus-complex ". Kesempatan untuk mengakhiri rutinitas melelahkan sebagai seorang siswa yang lebih dari sekedar siswa ( Mahasiswa ) seakan-akan terus tertunda dan membuat kata ketidakpastian. Semangat Mahasiswa pun menjadi terus menerus pupus seiring jadwal yang kian tak bersahabat dengan Dosen yang sangat susah ditemui. Dan tentunya selalu terlintas pertanyaan " kapan topi toga menghampiri dan kehidupan kampus segera berakhir menjadi kehidupan seorang pegawai kantoran yang selalu menerima gaji tiap akhir bulan ".
Di lain tempat dan waktu dan di pagi yang tidak bersahabat, dengan panas matahari yang mulai meninggi, dan segala riuh gemuruh suara terminal terus menerus menghampiri tanpa henti. Banyak angkot dan bus keluar masuk melewati tempat dimana seorang karyawan baru menunggu mobil yang ditunggu, bahkan tak ketinggalan Busway dengan badannya yang besar dan berjalan beriringan tak mau kalah dengan bus bus antar kota. Karyawan itu seperti biasa menunggu angkot jurusan tanah abang yang tak muncul datang, sambil terus berkeluh menunggu sampai hampir setengah jam " kapan aku sampai kantor tepat waktu ".
Sambil mengerjakan pekerjaan harian mengurusi jurnal piutang yang semakin hari semakin bertumpuk di atas meja, karyawan yang sudah mengabdi selama lima tahun di perusahaan manufaktur besar di jakarta menunggu hasil dari atasan, sebuah hasil yang dinanti-nantinya selama ia bekerja di perusahaan itu dan berharap dapat memperbaiki jabatannya yang tidak hanya sebagai pesuruh, dan hasil dari test untuk naik jabatan inilah yang sangat dinantikannya setelah sudah berhari-hari ia jalani dengan sangat melelahkan. Sambil menatap komputer dia selalu bertanya dalam hati " kapan aku bisa menempati ruangan itu sebagai kepala Accounting dan mempunyai bawahan sebagai alat untuk menyalurkan amarah ketika deadline laporan yang tak kunjung selesai ".
Semua keinginan dalam karir sebagai seorang manager wanita yang handal sepertinya sudah cukup digapai, bertahun - tahun bekerja untuk diri sendiri mungkin sekaranglah saatnya memikirkan bagaimana hidup saling berbagi dengan orang yang kita kasihi dan itu adalah sebuah kelengkapan dari pasangan hidup yang tinggal diraih seorang wanita karir yang satu ini. Dengan bantuan temannya, wanita yang sudah mapan ini tinggal menunggu hari H saja untuk menyandang status baru sebagai seorang istri. Apakah itu impian semua wanita? Jawabannya belum tentu iya, namun baginya ini adalah momen yang sudah ditunggu - tunggu sejak ia memutuskan untuk mau hidup berbagi dengan seseorang. Masih seminggu lagi memang, akan tetapi seminggu yang penuh penantian panjang, setiap detik, menit, jam bahkan tiap malam selalu tersirat " akankah minggu depan bisa dipercepat menjadi satu hari lagi ? ".
Di lain kesempatan seorang wanita yang sedang menunggu pulang suaminya. Karena tak biasanya suaminya pulang selarut ini, maka sang istri hanya bisa mondar mandir sambil memegangi Hp yang berada ditangannya sambil mendengarkan suara televisi yang ia nyalakan hanya untuk sebagai peneman agar suasana tak begitu sunyi. Tak hanya waktu pulang yang tak biasa nomor suaminya yang selalu aktif pun mulai tak biasa karena sudah hampir sepuluh kali sang istri menelpon hanya jawaban operatorlah yang ia dapat, bukan suara berat suaminya yang biasa ia terima. Sesekali nafas berat ia lontarkan dan sebuah pertanyaan di dalam hati yang bertanya - tanya " ada dimana kamu Pak? Inikan sudah larut, kapan Hp kamu aktif dan cepat pulang ke rumah? ".
Itulah kegiatan yang bernama menunggu... Sebuah kegiatan yang sebenarnya tidak terlalu menyenangkan... Sesuatu yang membuat hati menjadi tak sabaran, entah itu berita, seseorang, kekasih, pengharapan atau apapun, namun kadang membuat hati dan tubuh lelah, karena menunggu memang tak menyenangkan. Tetapi tak sadarkah bahwa sejatinya kita semua, tak hanya aku, seorang mahasiswa, seorang istri, sahabat saja, tetapi semua, kita sedang menunggu kematian kita. Kita akan selalu menunggu kapan kematian itu akan datang, tetapi tak semua orang menyadarinya, bahwa bagi mereka yang hanya terlintas sedikit menganggap bahwa penantian itu bisa diperlambat, bisa ditunda berhari hari, berbulan bulan bahkan bertahun tahun. Semua terlena oleh kesibukan yang mereka lakukan dan keinginan - keinginan duniawi yang mungkin saja semua itu hanya mimpi belaka. Mimpi yang hanya diterbangkan debu debu halus dalam sebuah alur kehidupan manusia, karena diatas sana ada sang Pencipta yang bisa dengan mudahnya mengubah segala sesuatu menjadi berakhir begitu saja jika kita lengah sedikit.
Atau kematianlah yang sedang menunggu kita, kapan dia akan menyambutnya. Adakah persiapan, adakah kenyamanan atau kegembiraan dalam menunggunya, mungkin hanya segelintir orang saja dari bermilyar milyar manusia di bumi tercinta ini yang mempersiapkannya... Para sufi, para Ulama, para Pemikir... Entahlah, semoga tak hanya mereka yang semakin sadar, bahwa kita semua adalah, karena hanya satu yang kita tunggu, yaitu bertemu dengan Sang Pencipta...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar