Sabtu, 14 September 2013

Hanya Untaian


Berlenggang-lenggong para tikus berjalan
Berjalan di atas singgasana kebanggaan
Berharap mendapat suatu kesempatan
Dengan sekali lagi membiaskan kenyataan

Para kolektor pun tak mau kalah
Menunjukkan diri di panggung hiburan
Yang hanya bisa bergantung pada pasaran
Tanpa memperdulikan perasaan

Ekor ekor mereka semua bertebaran
Menebar kebohongan agar jadi kawalan
Biar nanti dapat penangguhan
Atau pun malah lolos dari ujian

Sedangkan para semut berlarian
Berharap ada sesuatu di barang curian
Yang mereka temukan di tempat galian
Tanpa ada yang memperdulikan

Mungkin ini semua hanya gurauan
Tanpa bermaksud sindiran
Tapi kalau ada satu dua mengandung kebenaran
Maka jadikanlah renungan

Aku bersyukur masih bisa menghirup udara malam  yang dingin di penghujung hari, walau sebelumnya aku hanyut akan takdir yang menyapa sesaat


Aku bersyukur masih diberi cahaya kebaikan yang ditebarkan oleh hamba-hamba-Nya, walau sebelumnya aku terlalu terpaku pada kenyataan yang tak ingin kualami


Aku masih bersyukur bisa menyiratkan seuntas senyuman kecil dan untaian kata-kata sambil menikmati malam, walau sebelumnya aku merasa sedih akan nasib berkunjung menghampiri


Aku masih bersyukur diberi kenyataan daripada angan-angan sesaat, walau sebelumnya aku terus menerus menahan airmata yang pada waktu - waktu tertentu jatuh tak sengaja, mengingat semua perjuanagnku, niatku dan segala hal yang terjadi kepadaku

Namun, aku tertunduk malu pada sang Pencipta, mengapa aku mengeluh? mengapa aku terdiam? mengapa aku merasa tersiksa pada kenyataan? padahal sama sekali semua itu bukan siksaan melainkan kado terindah dari-Nya melalui proses hidup. Aku malu selalu terus menerus mengingat hal buruk, sedangkan banyak sekali kebahagiaan menghampiri. Aku tak sadar sampai waktu menyadarkanku apa arti fana dan fatarmorgana sedang realita adalah sesuatu yang nyata...aku malu benar-benar malu...

Jumat, 06 September 2013

Bangsa Tikus dan Kucing


Di pagi hari yang cerah di suatu sudut, termenunglah seekor tikus. Si tikus got termenung menangisi kehidupannya. Lalu datang seorang temannya sesama tikus.
“ Mengapa engkau sendirian ? Bukankah kamu harus mencari makan dengan tikus-tikus yang lain ? “
“ Aku takut dan bosan “ Jawabnya.  “ Mengapa ?” Temannya bertanya kembali.
“ Aku takut karena sekarang banyak sekali para kucing berkeliaran dan memangsa teman-teman kita. Mereka begitu kuat hingga dapat merobek-robek tubuh kita.”
“ Bukankah itu sudah biasa, mungkin karena kita lebih kecil dari mereka.”
“ Justru itu, aku bosan menjadi tikus kecil yang malang, yang hanya tinggal menunggu hari untuk dimakan oleh seekor kucing besar.”
“ Tapi apa yang bisa kita lakukan, sekarang jalani saja kehidupan kita sebagai tikus.”
Walaupun temannya menasehati, si tikus itu tetap saja termenung, dalam hati dia berharap “ Andaikan saja aku bisa menjadi seekor kucing yang besar “. Ketika malam tiba dan si tikus tertidur, dia bermimpi bertemu dengan seseorang yang tidak dikenalnya dan dia bertanya.
“ Mengapa kamu sedih wahai tikus, apakah benar kamu bosan menjadi seekor tikus ? ”
“ Ya memang benar, menjadi tikus itu menyedihkan, aku ingin menjadi seekor kucing.”
“ Baiklah akan aku kabulkan. Tapi kau yakin takkan menyesal?” dia bertanya kembali. ” Tidak, ” jawab tikus itu dalam mimpinya. 
Dan ketika terbangun si tikus kaget karena didepannya sudah berdiri seekor kucing yang siap memangsanya. Si tikus panik bukan main, namun si kucing berkata.
“ Kenapa kamu begitu ketakutan sekali melihatku, apakah karena kamu kucing baru disini ?” Si kucing itu bertanya lantang.
Si tikus kaget dengan apa yang baru didengarnya, dan kini dia menyadari bahwa kulitnya kini tidak lagi hitam melainkan kuning dan putih, juga tumbuh bulu yang lebat di seluruh tubuhnya. Dia juga meraba wajahnya, mulutnya tidak lagi moncong kedepan begitu juga gigi-giginya. 
“ Kenapa kamu terdiam seperti itu, lebih baik kamu ikut aku, kita akan berburu tikus-tikus kecil “.
Si tikus hanya bisa menurut. Dan sekarang dia sadar bahwa kini dia bukan lagi seekor tikus kecil, melainkan seekor kucing besar yang siap memburu mangsanya yang tak lain tak bukan adalah bangsa dia sebelumnya. Makin hari dia merasa senang karena sekarang dia tak perlu takut lagi jika dia bertemu dengan seekor kucing. 
Pada suatu hari seekor kucing yang paling besar atau bisa disebut sang pemimpin dalam perburuan tikus-tikus, mengajaknya untuk mencari mangsa baru. Karena sudah terbiasa dengan kegagahannya di depan para tikus, ia selalu siap jika tiba-tiba diajak oleh sang pemimpin untuk berburu. Lalu tibalah mereka di dekat dapur sebuah rumah yang cukup kotor. Rumah itu seperti tidak berpenghuni atau setidaknya sudah lama tidak dihuni oleh pemiliknya. Lalu mereka mengendap-endap mencari suara ”cit-cit” yang terdengar. Di suatu sudut dekat tempat sampah, sang pemimpin berkata ” Ayo kita sergap tikus-tikus itu, sepertinya mereka tidak mengira akan ada kucing disini ”. 
Lalu dia mengintruksikan strategi untuk menyerang tikus-tikus itu. Lalu tibalah si mantan tikus disuruh berlari ke pojok kanan untuk menghadang agar tikus-tikus tidak bisa melarikan diri. Ketika para tikus terkejut dengan kedatangan kucing-kucing besar, lalu mereka lari terbirit-birit, malah ada yang sudah jadi korban, lalu si mantan tikus terkejut ketika berhadapan dengan seekor tikus di depannya, teman-teman kucingnya berteriak ” Ayo cepat sergap tikus kecil itu, itu mangsa kita, ” katanya kepada si mantan tikus. 
Namun entah mengapa mulut si mantan tikus terkatup, sendi-sendi badannya menjadi longgar, jantung berdegup keras dan kakinya tak bisa melangkah. Para kucing mulai memarahiku, ” Mengapa tidak langsung kau lahap?” si mantan tikus terdiam. Didepannya berdiri tikus kecil lemah yang hanya dengan satu gigitan pasti dagingnya akan langsung bisa robek dan terus mengeluarkan darah tak henti sampai mati, namun dia bukanlah tikus asing, melainkan dia adalah saudara si mantan tikus dulu. 
Rasa kasihan datang menghampirinya, bahkan ia merasa bukan lagi kucing yang gagah jika ia memangsanya saat ini juga, karena ia hanyalah seorang binatang pengecut yang hanya berani terhadap makhluk yang lebih kecil, apalagi jika ia teringat kehidupan dahulu dan mereka dibesarkan bersama-sama. Si mantan tikus tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia biarkan tikus kecil itu melarikan diri. Dan tiba-tiba muncul suara keras dihadapannya.
” Mengapa kamu tidak sergap dan membunuhnya? Kau lebih besar, tetapi kau hanya bisa terpaku didepannya!” Si mantan tikus tak menjawab dan tak membela diri. Semenjak itu, ia tak pernah dianggap lagi sebagai bangsa Kucing. Ia dikucilkan dengan sebutan seekor kucing pengecut. Tapi mungkin itu lebih baik daripada harus membunuh adiknya sendiri. Kini ia hidup dalam penyesalan. Tubuhnya tak bisa kembali menjadi tikus yang dulu dan berkumpul dengan keluarga dan teman-temannya. Dan ia pun tak diterima sebagai bangsa kucing. Ah, jika saja dulu ia pasrah menjalani hidup ini, mungkin ia tak akan merasakan kesendirian yang sangat seperti ini. Dan andai waktu bisa diulang, tapi semua sudah terlambat.