Kamis, 16 Juli 2015

.........m

Setahun sekali tiga puluh hari sebulan
empat belas jam sehari
lewat tak terasa berlalu terus menyapa
Terus dan terus, terulang selalu tak ada yang tersisa, lewat begitu saja

Seakan-akan mereka lupa Sang Pencipta
Hanya tahu dunia belaka yang selalu terlena

Senin, 08 September 2014

Sepenggal Kisah Bersama Kalian

Entah ini disebut fiksi atau non fiksi, yang pasti hanya ada satu orang yang membuat saya terheran heran menggelengkan kepala saya setiap saya teringat akan kenangan selama tiga tahun yang herannya saya bisa bertahan selama itu. Saya tidak tahu apa yang membuat saya bisa bertahan selama tiga tahun belakangan ini, tetapi semua itu akan saya ceritakan satu persatu. Bersiap siaplah kalian tertawa, terharu, menangis, dan menggelengkan kepala.

Episode 1

Saya wanita yang cukup muda (J), baru saja saya diterima bekerja di sebuah perusahaan manufaktur. Dan secara kebetulan saya diperkerjakan di cabang kantor penjualan yang jaraknya lumayan jauh dari rumah saya. Pertama kali masuk kerja saya sangat gugup, karena apa, karena bertemu orang orang baru, pertama kali masuk perusahaan dan sebagainya. Untuk perkenalan, mengapa saya begitu gugup. Pertama saya orang cukup pemalu untuk ukuran orang yang berada dilingkungan baru. Tetapi jika sudah lama mengenal orang, apalagi orang tersebut cocok dengan saya maka tidak ada batas lagi buat saya untuk bercengrama dengannya.
Baru pertama bekerja saya agak sedikit shock, mengapa? Karena saya mendapatkan atasan yang bisa dibilang orang teraneh yang pernah saya kenal. Untungnya saya berpartner dengan seorang yang sangat humoris sekali. Namanya pak Slamet. Dia sudah berumur memang tetapi kelakuannya masih seperti pria muda, atau itulah yang dirasa oleh dia sendiri. Rambutnya sedikit memutih tetapi entah mengapa pak Slamet tetap tidak mau mengakuinya. Sungguh aki aki ( kami wanita menyebutnya akhir akhir ini atau kadang engkong ) yang terlalu pede. Dan lagi dia selalu menyebut jaket dan motornya bermerk amerika. Padahal letak negara amerika saja sepertinya dia tidak tahu. Tapi itulah uniknya dia. Oh ya yang membuat saya heran juga sampai sekarang di umurnya yang ke – 48 pak Slamet ternyata masih mempunyai kakek nenek komplit dari dia dan istrinya (-o-).

Hari hari kerja lelah pun tak terasa kalau dia sudak melawak. Apalagi di akhir bulan. Karena setiap akhir bulan kita harus lembur sampai jam sembilan malam. Menyelesaikan laporan bulanan. Karena kami tim penjualan di perusahaan manufaktur dari yang namanya stock opname gudang, stock opname faktur, nota, sampai pajak pelanggan dan angkutan semua harus clear setiap bulan tanpa ada selisih. Tetapi bukan perkerjaannya yang dirasa berat tetapi siapa lagi kalau bukan atasan yang menyebalkan.

Sabtu, 14 September 2013

Hanya Untaian


Berlenggang-lenggong para tikus berjalan
Berjalan di atas singgasana kebanggaan
Berharap mendapat suatu kesempatan
Dengan sekali lagi membiaskan kenyataan

Para kolektor pun tak mau kalah
Menunjukkan diri di panggung hiburan
Yang hanya bisa bergantung pada pasaran
Tanpa memperdulikan perasaan

Ekor ekor mereka semua bertebaran
Menebar kebohongan agar jadi kawalan
Biar nanti dapat penangguhan
Atau pun malah lolos dari ujian

Sedangkan para semut berlarian
Berharap ada sesuatu di barang curian
Yang mereka temukan di tempat galian
Tanpa ada yang memperdulikan

Mungkin ini semua hanya gurauan
Tanpa bermaksud sindiran
Tapi kalau ada satu dua mengandung kebenaran
Maka jadikanlah renungan

Aku bersyukur masih bisa menghirup udara malam  yang dingin di penghujung hari, walau sebelumnya aku hanyut akan takdir yang menyapa sesaat


Aku bersyukur masih diberi cahaya kebaikan yang ditebarkan oleh hamba-hamba-Nya, walau sebelumnya aku terlalu terpaku pada kenyataan yang tak ingin kualami


Aku masih bersyukur bisa menyiratkan seuntas senyuman kecil dan untaian kata-kata sambil menikmati malam, walau sebelumnya aku merasa sedih akan nasib berkunjung menghampiri


Aku masih bersyukur diberi kenyataan daripada angan-angan sesaat, walau sebelumnya aku terus menerus menahan airmata yang pada waktu - waktu tertentu jatuh tak sengaja, mengingat semua perjuanagnku, niatku dan segala hal yang terjadi kepadaku

Namun, aku tertunduk malu pada sang Pencipta, mengapa aku mengeluh? mengapa aku terdiam? mengapa aku merasa tersiksa pada kenyataan? padahal sama sekali semua itu bukan siksaan melainkan kado terindah dari-Nya melalui proses hidup. Aku malu selalu terus menerus mengingat hal buruk, sedangkan banyak sekali kebahagiaan menghampiri. Aku tak sadar sampai waktu menyadarkanku apa arti fana dan fatarmorgana sedang realita adalah sesuatu yang nyata...aku malu benar-benar malu...

Jumat, 06 September 2013

Bangsa Tikus dan Kucing


Di pagi hari yang cerah di suatu sudut, termenunglah seekor tikus. Si tikus got termenung menangisi kehidupannya. Lalu datang seorang temannya sesama tikus.
“ Mengapa engkau sendirian ? Bukankah kamu harus mencari makan dengan tikus-tikus yang lain ? “
“ Aku takut dan bosan “ Jawabnya.  “ Mengapa ?” Temannya bertanya kembali.
“ Aku takut karena sekarang banyak sekali para kucing berkeliaran dan memangsa teman-teman kita. Mereka begitu kuat hingga dapat merobek-robek tubuh kita.”
“ Bukankah itu sudah biasa, mungkin karena kita lebih kecil dari mereka.”
“ Justru itu, aku bosan menjadi tikus kecil yang malang, yang hanya tinggal menunggu hari untuk dimakan oleh seekor kucing besar.”
“ Tapi apa yang bisa kita lakukan, sekarang jalani saja kehidupan kita sebagai tikus.”
Walaupun temannya menasehati, si tikus itu tetap saja termenung, dalam hati dia berharap “ Andaikan saja aku bisa menjadi seekor kucing yang besar “. Ketika malam tiba dan si tikus tertidur, dia bermimpi bertemu dengan seseorang yang tidak dikenalnya dan dia bertanya.
“ Mengapa kamu sedih wahai tikus, apakah benar kamu bosan menjadi seekor tikus ? ”
“ Ya memang benar, menjadi tikus itu menyedihkan, aku ingin menjadi seekor kucing.”
“ Baiklah akan aku kabulkan. Tapi kau yakin takkan menyesal?” dia bertanya kembali. ” Tidak, ” jawab tikus itu dalam mimpinya. 
Dan ketika terbangun si tikus kaget karena didepannya sudah berdiri seekor kucing yang siap memangsanya. Si tikus panik bukan main, namun si kucing berkata.
“ Kenapa kamu begitu ketakutan sekali melihatku, apakah karena kamu kucing baru disini ?” Si kucing itu bertanya lantang.
Si tikus kaget dengan apa yang baru didengarnya, dan kini dia menyadari bahwa kulitnya kini tidak lagi hitam melainkan kuning dan putih, juga tumbuh bulu yang lebat di seluruh tubuhnya. Dia juga meraba wajahnya, mulutnya tidak lagi moncong kedepan begitu juga gigi-giginya. 
“ Kenapa kamu terdiam seperti itu, lebih baik kamu ikut aku, kita akan berburu tikus-tikus kecil “.
Si tikus hanya bisa menurut. Dan sekarang dia sadar bahwa kini dia bukan lagi seekor tikus kecil, melainkan seekor kucing besar yang siap memburu mangsanya yang tak lain tak bukan adalah bangsa dia sebelumnya. Makin hari dia merasa senang karena sekarang dia tak perlu takut lagi jika dia bertemu dengan seekor kucing. 
Pada suatu hari seekor kucing yang paling besar atau bisa disebut sang pemimpin dalam perburuan tikus-tikus, mengajaknya untuk mencari mangsa baru. Karena sudah terbiasa dengan kegagahannya di depan para tikus, ia selalu siap jika tiba-tiba diajak oleh sang pemimpin untuk berburu. Lalu tibalah mereka di dekat dapur sebuah rumah yang cukup kotor. Rumah itu seperti tidak berpenghuni atau setidaknya sudah lama tidak dihuni oleh pemiliknya. Lalu mereka mengendap-endap mencari suara ”cit-cit” yang terdengar. Di suatu sudut dekat tempat sampah, sang pemimpin berkata ” Ayo kita sergap tikus-tikus itu, sepertinya mereka tidak mengira akan ada kucing disini ”. 
Lalu dia mengintruksikan strategi untuk menyerang tikus-tikus itu. Lalu tibalah si mantan tikus disuruh berlari ke pojok kanan untuk menghadang agar tikus-tikus tidak bisa melarikan diri. Ketika para tikus terkejut dengan kedatangan kucing-kucing besar, lalu mereka lari terbirit-birit, malah ada yang sudah jadi korban, lalu si mantan tikus terkejut ketika berhadapan dengan seekor tikus di depannya, teman-teman kucingnya berteriak ” Ayo cepat sergap tikus kecil itu, itu mangsa kita, ” katanya kepada si mantan tikus. 
Namun entah mengapa mulut si mantan tikus terkatup, sendi-sendi badannya menjadi longgar, jantung berdegup keras dan kakinya tak bisa melangkah. Para kucing mulai memarahiku, ” Mengapa tidak langsung kau lahap?” si mantan tikus terdiam. Didepannya berdiri tikus kecil lemah yang hanya dengan satu gigitan pasti dagingnya akan langsung bisa robek dan terus mengeluarkan darah tak henti sampai mati, namun dia bukanlah tikus asing, melainkan dia adalah saudara si mantan tikus dulu. 
Rasa kasihan datang menghampirinya, bahkan ia merasa bukan lagi kucing yang gagah jika ia memangsanya saat ini juga, karena ia hanyalah seorang binatang pengecut yang hanya berani terhadap makhluk yang lebih kecil, apalagi jika ia teringat kehidupan dahulu dan mereka dibesarkan bersama-sama. Si mantan tikus tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia biarkan tikus kecil itu melarikan diri. Dan tiba-tiba muncul suara keras dihadapannya.
” Mengapa kamu tidak sergap dan membunuhnya? Kau lebih besar, tetapi kau hanya bisa terpaku didepannya!” Si mantan tikus tak menjawab dan tak membela diri. Semenjak itu, ia tak pernah dianggap lagi sebagai bangsa Kucing. Ia dikucilkan dengan sebutan seekor kucing pengecut. Tapi mungkin itu lebih baik daripada harus membunuh adiknya sendiri. Kini ia hidup dalam penyesalan. Tubuhnya tak bisa kembali menjadi tikus yang dulu dan berkumpul dengan keluarga dan teman-temannya. Dan ia pun tak diterima sebagai bangsa kucing. Ah, jika saja dulu ia pasrah menjalani hidup ini, mungkin ia tak akan merasakan kesendirian yang sangat seperti ini. Dan andai waktu bisa diulang, tapi semua sudah terlambat. 

Minggu, 23 Desember 2012

Koruptor dan ( juga ) Penipu

    Beberapa minggu terakhir ini saya sering sekali melihat kasus kasus penipuan, yang saya maksud disini adalah penipuan dalam hal membohongi masyarakat, seperti kasus bakso yang banyak sekali mengandung daging babi . Yang ditipu disini tentunya adalah muslim, khususnya mereka yang taat terhadap ajaran islam untuk tidak memakan daging babi ( haram hukumnya ). Namun jauh sebelum itu tidak hanya bakso sebagai makanan kesukaan orang Indonesia yang banyak tercampur dengan daging babi, tetapi banyak cerita seperti kasus ayam tiren, bakso daging tikus, jamu oplosan sampai kosmetik wanita dengan bahan-bahan berbahaya beredar disekitar kita. Betapa mirisnya kita melihat akibat dari apa yang mereka lakukan. Kadang saya berpikir begitu jahatnya mereka menipu masyarakat hanya untuk untung yang tidak seberapa. Sebegitu perlukah mereka melakukan itu semua hanya demi uang yang tidak seberapa besar dibanding akibat yang ditimbulkannya kepada konsumen yang mereka tipu?
    Mungkin pada awalnya mereka menganggap hal ini biasa saja. Toh mereka hanya mencampurkan sedikit atau setengahnya ( tidak sepenuhnya ) dan tidak berefek langsung seperti halnya racun, tetapi bertahap. Selain itu sulit untuk mengusutnya karena beredar dari tangan yang satu ke tangan yang lain, bergerak secara acak, bahkan ide itu terpikirkan setelah apa yang diusahakan tidak menguntungkan banyak pemasukan.
    Lainnya halnya dengan penipu kelas kakap. Hati hati, sangat tersembunyi dan licik namun tertutupi dengan sangat rapi dan berkelas khas mafia-mafia yang kita lihat di film-film luar negeri. Namun pada intinya mereka adalah sama. Yang saya maksud adalah koruptor, yaitu penipu masyarakat yang terlihat seperti pejabat pemerintah namun mereka haus darah akan kekayaan yang melimpah dan mereka tidak main main melakukannya karena membutuhkan persiapan dan para tameng untuk menutupi kejahatannya. Mereka seperti pembunuh berdarah dingin. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kelas atas yang mempunyai kesempatan dalam hal mengeruk kekayaan negara yang bukan haknya. Para koruptor ini pun tidak lahir begitu saja tiba-tiba, tetapi mempunyai perencanaan yang matang, dengan berbekal orang-orang penting disekelilingnya. Walaupun sebenarnya apa yang mereka lakukan bukan untuk hal yang perlu dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi hanya menambah kekayaan saja agar tetap bertahan hidup dalam kemewahan yang menguasai mereka selama ini.
    Yang ingin saya pertanyakaan adalah manakah yang lebih kejam diantara keduanya. Karena inti dari kejahatan mereka adalah sama, yaitu berkedok penipu. Dua-duanya memang kejam dan sangat merugikan masyarakat yang tidak tahu apa-apa, tetapi kata " serupa tapi tak sama " adalah sesuatu kata yang tepat untuk menggambarkan penipu-penipu ini.
    Terlintas menurut saya, bedanya adalah para penipu kelas teri mendapatkan untung yang tidak seberapa dengan kejahatan yang mereka perbuat, namun efeknya bisa begitu cepat terhadap korban yang ditipunya. Tetapi para koruptor justru sebaliknya dia mendapat untung yang bisa dibilang sangat besar dan bahkan berjuta juta kali lipat dari penipu kelas teri dan bisa jadi uang yang dia ambil pun berasal dari penipu penipu kelas teri ini juga, tetapi efek dari para koruptor ini sangat lama sekali, bahkan sebenarnya tidak terasa. Tetapi yang kita tahu ini sangat merugikan negara yang notabennya adalah milik kita semua masyarakat, bukan hanya pribadi atau oknum-oknum tertentu saja. Jadi apa sebenarnya makna dari demokrasi yang kita lihat sekarang ini??? Hanya sebagai simbolkah atau hanya paham yang hanya dipelajari tetapi tidak dipraktekan??? ( dari Rakyat, oleh rakyat, untuk Rakyat )


Sabtu, 06 Oktober 2012

The Greatest Man in the World

Tak pernah terlihat kerut di wajahnya
Tak pernah ada kata keluh keluar dari mulutnya
Tak pernah ada takut yang tersirat dari rautnya
Tak pernah sia sia apa yang di sarankannya

Orang terkasih dari Sang Pencipta
Yang paling mulia dari kaumnya
Yang terdepan dari sejawatnya
Pelipur lara bagi yang mengenalnya

Tak pernah terpikirkan akan keburukan orang lain
Tak pernah membalas sama apa yang diperbuat orang lain terhadap dirinya
sekalipun itu hal menyakitkan untuknya
Paling dekat akan Surga-Nya
Paling terjaga akan azab-Nya

Penyeru zaman yang adil dan bijaksana
Tak kan ada dua orang mempunyai sifat yang sama
Paling dinanti oleh semua manusia
bahkan sekalipun belum pernah melihat wajahnya
Semua orang mengetahuinya namun sedikit yang meyakininya
Dialah sang Penutup bagi kita semua

Wahai kekasih Allah,,,,
Sungguh tak beruntung orang yang tak mengenalmu
Walau hanya dari seuntai cerita, namun bagi yang terbuka hatinya
akan terbuka pula akalnya

Sang Pengubah Zaman di eranya
Bahkan sampai akhir pun masih tak ada gantinya