Rabu, 17 Agustus 2016

My Secret Admirer

“ Maa, aku berangkat.“ teriakku sambil berlari keluar rumah. “ Hati-hati sayang. ” suara mama tenggelam begitu saja diiringi derapan langkah kakiku. Entah mengapa hari ini aku bersemangat sekali.
            Sesampai di sekolah aku bertemu dengan teman-temanku. “ Sumringah banget hari ini Ros?” tanya Eka yang dari tadi mengamati wajahku yang berseri ketika baru saja sampai di kelas. “ Pasti karena mau ketemu Pak Angga ya!” ledeknya.
“Apaan sih, bukan pak Angganya, tapi pelajarannya. Kan Bahasa Inggris pelajaran jam kedua, do you understand?” disambut senyum tawa Lusi dan Angel yang duduk dibelakang.
“ Bukannya kalau pelajaran loe suka sama Bahasa Indonesia ya? Terus kalau gurunya ya Pak Angga, guru Bahasa Inggris” Lusi ikut berkomentar.
“ Ya berarti sekarang gua suka dua pelajaran itu. Lagian Bahasa Inggriskan bahasa Internasional.” kuakhiri kalimatku dengan tersenyum. Dan percakapan kita seketika selesai karena pelajaran pertama sudah dimulai.
            Pelajaran hari ini lumayan menyenangkan buatku, karena ada pelajaran favoritku selebihnya kalau aku sedang rajin aku memperhatikan dengan seksama dan kalau tidak ya hanya mendengarkan sambil lalu. Hingga tak terasa bel pulang sekolah sudah berbunyi. Aku yang sudah sedari pagi banyak tersenyum, hanya bisa meninggalkan kelas dengan santai tanpa menunggu teman-temanku untuk pulang bareng seperti biasa. Tetapi Eka sadar bahwa ada yang tidak beres dengan arti senyumku sedari tadi. Hingga dia mengejarku secepat kilat.
“ Ros tunggu.” Eka berusaha berdiri sejajar denganku.
 “ Dari tadi kayaknya happy mulu, kenapa sih?” ia berusaha kepo.
“ Ngga kenapa-kenapa, kan tadi udah bilang, karena hari ini ada pelajaran Bahasa Inggris sama Bahasa Indonesia.” jawabku singkat.
“ Ini bukan masalah pelajarannya Rosa cantik, kayaknya ada yang loe sembunyiin deh dari kita-kita?” mata Eka seakan ikut berbicara juga.
“ Engga deh perasaan, udah ya loe nanya mulu kayak polisi mau interogasi penjahat. Gue duluan yah, hari ini gue mau bantuin mama bikin Spaghetti. Dahhh.” jawabku sambil menghilang dari pandangannya.
“ Sok keinggris-inggrisan lo, okelah kalau begitu, dahh juga.” jawabnya begitu saja.
            Sebenarnya aku tak bermaksud merahasiakan apa yang membuat aku senang belakangan ini. Namun karena ini masih terlalu pagi untuk dibicarakan, maka dari itu aku menunda bercerita mengenai...ahh siapa lagi kalau bukan cowok yang satu ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar